Rabu, 18 Desember 2013

HUBUNGAN PROGRAM PELAYANAN POSYANDU LANSIA TERHADAP TINGKAT KEPUASAN LANSIA DI DAERAH BINAAN PUSKESMAS DARUSSALAM MEDAN dan Pengaruh latihan Kegel Terhadap Frekuensi lnkontinensia Urine Pada Lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang.

posting 1


ABSTRAK
Program pelayanan posyandu lanjut usia adalah sebuah program yang ditetapkan oleh
pemerintah untuk meningkatkan kesehatan lansia di masyarakat yang dijalankan oleh
puskesmas. Program pelayanan ini harus dinilai sebagai bahan evaluasi. Namun hingga kini
belum ada alat yang dapat digunakan untuk menilai pelayanan tersebut. Yang dapat digunakan
hingga kini adalah dengan menilai tingkat kepuasan para lansia. Tingkat kepuasan akan
meningkat pada lansia yang mendapat pelayanan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi hubungan program pelayanan posyandu lansia terhadap tingkat kepuasan
lansia dengan menggunakan desain deskriptif korelasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
korelasi dengan sampel sebanyak 67 lansia yang berusia di atas 60 tahun, dapat mendengar dan
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan telah mendapatkan pelayanan posyandu lansia dari
puskesmas Darusalam Medan. Penentuan jumlah sampel dengan mengambil 10% dari populasi
pengunjung yaitu 667 pengunjung selama tahun 2005. Pengumpulan data dilakukan pada 23 Mei
2006 sampai 6 Juni 2006 dengan teknik wawancara yang menggunakan kuesioner meliputi data
demografi, program pelayanan posyandu lansia, dan tingkat kepuasan lansia. Dari penelitian
diperoleh hasil bahwa semua responden (100%) mendapatkan pelayanan sedang dan
mayoritas responden (77,6%) tidak puas, 19,7% merasa puas dan 3% merasa sangat puas.
Program pelayanan posyandu lansia memiliki hubungan dengan nilai kekuatan hubungan agak
rendah di mana r = 0.483 (r = 0.2–0.4 = agak rendah) dan memiliki hubungan yang
bermakana dengan nilai signifikan p pada uji dua arah adalah 0,000 (p<0.025).
Kata kunci: puskesmas, posyandu lansia, tingkat kepuasan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses menua di dalam perjalanan
hidup manusia merupakan suatu hal wajar
yang akan dialami semua orang yang
dikaruniai umur panjang (Nugroho, 2000).
Proses menua adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri atau mengganti dan mempertahankan
Penulis adalah
* Mahasiswa Program S-1 Keperawatan PSIK FK USU
** Dosen Keperawatan Komunitas PSIK FK USU
Universitas Sumatera Utara
2 Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006
fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita (Constantinides,
1994 dalam Nugroho, 2000).
Saat ini di seluruh dunia jumlah
orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta
dengan usia rata-rata 60 tahun dan
diperkirakan pada tahun 2025 akan
mencapai 1,2 milyar (Nugroho, 2000).
Sesuai dengan sensus penduduk tahun
1990, sebanyak 55,7% golongan umur
lansia memegang peranan sebagai kepala
keluarga dan lebih dari 60% tidak pernah
mengenyam pendidikan formal di sekolah
yang memadai. Tingkat partisipasi saat aktif
bekerja adalah di bawah 50%, khususnya
pada usia di atas 60 tahun (Nurkusuma,
2001).
Dengan demikian dapat dilihat
dalam beberapa dekade terakhir ini usia
atau angka harapan hidup penduduk
Indonesia telah meningkat karena adanya
peranan pada lansia meski memiliki
pendidikan rendah dan sudah usia lanjut.
Di samping peningkatan angka harapan
hidup, jumlah dan proporsi kelompok
lanjut usia di negara kita pun menunjukkan
kecenderungan meningkat yaitu 5,3 juta
jiwa atau 4,48% pada tahun 1971, 12,7 juta
jiwa atau 6,65% pada tahun 1990 dan akan
meningkat tajam menjadi 28,8 juta jiwa
atau 11,34% pada tahun 2010 nanti. Seiring
dengan bertambah lanjutnya usia, pola dan
gaya hidup lansia juga akan berubah,
seperti misalnya mereka akan menikmati
waktu luang lebih banyak karena aktivitas
sehari-hari yang mungkin menurun sejalan
dengan bertambahnya usia (Hamid, 2001).
Maka untuk menangani masalah
kesehatan lansia, pemerintah mengeluarkan
beberapa kebijakan/program yang diterapkan
oleh puskesmas. Program pelayanan lansia
disebut juga posyandu lansia (Depakes RI,
1991 dalam Effendi, 1998).
Di Medan sendiri, program ini telah
dijalankan di Puskesmas Darussalam. Dari
hasil observasi dan data yang didapat dari
puskesmas tentang program pelayanan
lansia sepanjang tahun 2005, hampir
seluruh program dapat terlaksana kecuali
pemeriksaan Hb. Untuk itu, peneliti ingin
mengetahui sejauh mana pengaruh program
pelayanan posyandu lansia terhadap
peningkatan kesejahteraan lansia yang diukur
dari tingkat kepuasan lansia di daerah binaan
puskesmas Darussalam Medan.
Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana pelaksanaan program
pelayanan posyandu lansia di Puskesmas
Darussalam Medan?
2. Bagaimana tingkat pelayanan program
posyandu lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam Medan?
3. Bagaimana tingkat kepuasan lansia di
daerah binaan Puskesmas Darussalam
Medan?
4. Bagaimana hubungan program pelayanan
posyandu lansia terhadap tingkat
kepuasan lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam Medan?
Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi pelaksanaan program
pelayanan posyandu lansia di Puskesmas
Darussalam Medan.
2. Mengidentifikasi tingkat pelayanan
program posyandu lansia di daerah
binaan Puskesmas Darussalam Medan.
3. Mengidentifikasi tingkat kepuasan
lansia di daerah binaan Puskesmas
Darussalam Medan.
4. Mengidentifikasi hubungan program
pelayanan posyandu lansia terhadap
tingkat kepuasan lansia di daerah
binaan Puskesmas Darussalam Medan.
Manfaat Penelitian
Bagi praktik keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
mengembangkan kemampuan perawat
komunitas dalam praktik keperawatan untuk
pencegahan dan promosi kesehatan pada
lansia.
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006 3
Bagi penelitian keperawatan
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan pengetahuan yang berharga
bagi peneliti, sehingga dapat menerapkan
pengalaman ilmiah yang diperoleh untuk
penelitian yang akan datang mengenai
keefektifan program puskesmas terhadap
peningkatan kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat.
Bagi pendidikan keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi informasi yang berguna
untuk meningkatkan kualitas pendidikan
terutama pada bagian keperawatan
komunitas dan gerontik yang berkaitan
dengan puskesmas.
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif korelasional
yang bertujuan untuk mengidentifikasi
hubungan program pelayanan posyandu
lansia terhadap tingkat kepuasan lansia di
daerah binaan Puskesmas Darussalam
Medan.
Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian adalah para
lansia yang mendapatkan pelayanan
program posyandu lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam. Penentuan jumlah
sampel dilakukan dengan menggunakan
rumus penentuan sampel menurut Nursalam
(2003) yaitu dengan rumus 10% dari
populasi jika populasi kurang dari 1000.
Dari data jumlah populasi pengunjung
lansia di Puskesmas Darussalam selama
tahun 2005 ditemukan jumlah pengunjung
sebanyak 668 lansia. Maka sampel yang
dibutuhkan adalah 67 lansia.
Pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan cara convenience sampling
yang dilakukan dengan mengambil
responden yangtersedia pada saat itu dan
telah memenuhi kriteria sampel yang telah
ditentukan terlebih dahulu (Notoatmojo,
1993). Kriteria yang telah ditentukan untuk
subyek penelitian adalah (1) lansia yang
mendapatkan pelayanan posyandu lansia
dari Puskesmas Darussalam, (2) dapat
berinteraksi dengan menggunakan bahasa
Indonesia, (3) berusia di atas 60 tahun, dan
(4) bisa mendengar.
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 25 Mei hingga 6 Juni 2006 di
Puskesmas Darussalam Medan. Alasan
peneliti memilih Puskesmas Darussalam
Medan sebagai tempat penelitian karena
merupakan puskesmas yang melaksanakan
program posyandu lansia dengan angka
pengunjung lansia yang cukup tinggi.
Pertimbangan Etik
Peneliti langsung memberikan
lembar persetujuan penelitian pada
responden, agar responsen mengetahui
maksud dan tujuan penelitian. Pada
responden yang bersedia diteliti maka
terlebih dahulu harus menandatangani
lembar persetujuan. Jika responden
menolak untuk diteliti maka peneliti tidak
akan memaksa dan tetap menghormati
haknya. Untuk menjaga kerahasiaan
responden, peneliti tidak akan
mencantumkan nama responden pada
lembar pengumpulan data (kuesioner).
Lembar tersebut hanya diberi nomor kode
tertentu. Kerahasiaan informasi yang
diberikan oleh responden dijamin oleh
peneliti (Nursalam, 2001).
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini digunakan dalam bentuk
kuesioner. Kuesioner ini dibagi menjadi 3
bagian, bagian pertama adalah tentang data
demografi. Bagian kedua adalah data
pelayanan posyandu yang diterima klien.
Kuesioner ini merupakan pengembangan
Universitas Sumatera Utara
4 Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006
dari pengukuran kinerja pelayanan dan
program pelayanan posyandu lansia. Bagian
ketiga adalah data tingkat kepuasan lansia
yang merupakan pengembangan dari
faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
kepuasan jasa pelayanan kesehatan
menurut Muninjaya (2004) yang terdiri dari
7 faktor yaitu pemahaman konsumen,
empati, biaya, pelayanan fisik, jaminan
keamanan, keterampilan dan kecepatan.
Dan juga merupakan modifikasi dari
instrumen penelitian oleh Simatupang
(2005) yang juga memodifikasi dari tinjauan
pustaka A study to determine patient
satisfaction with nursing care (Mc Coll. E,
Thomas. L, Bond. S, 1996). Kuesioner ini
menggunakan skala Likert. Pada skala
Likert setiap pernyataan akan mempunyai
skor (nilai) antara lain Sangat Puas = 4,
Puas = 3, Tidak Puas = 2, dan Sangat
Tidak Puas = 1.
Reliabilitas Instrumen
Peneliti terlebih dahulu melakukan
uji reliabilitas pada instrumen penelitian.
Uji reliabilitas dilakukan kepada 10
responden. Untuk kuesioner data pelayanan
posyandu lansia menggunakan uji KR-20
karena jumlah pertanyaan ganjil dan
bersifat dikotomi di mana nilai r hasil 0.65
lebih besar dari nilai r tabel (0.63), maka
instrument ini dikatakan reliabel. (Arikunto,
2002). Untuk kuesioner tingkat kepuasan
menggunakan formula Cronbach Alpha
karena instrumen ini menggunakan skala
Likert. Kemudian dengan menggunakan
formulasi dalam program SPSS versi 12.0
hasil uji bernilai 0.868 dan dikatakan
reliabel (r > 0.700) (Arikunto, 2002).
Pengumpulan Data
Pada tahap awal peneliti
mengajukan permohonan izin pelaksanaan
penelitian pada institusi pendidikan
(Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Sumatera Utara), kemudian
permohonan izin yang telah diperoleh
dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kota
Medan. Lalu bersama surat rujukan dari
Dinas Kesehatan Kota Medan surat izin
tersebut dikirimkan ke tempat penelitian
yaitu Puskesmas Darussalam Medan. Setelah
mendapat izin, peneliti melakukan pengumpulan
data penelitian. Peneliti menemukan
responden sesuai dengan kriteria yang telah
dibuat sebelumnya. Setelah mendapatkan
responden, selanjutnya peneliti menjelaskan
pada calon responden tersebut tentang
tujuan, manfaat, dan pengisian kuesioner,
kemudian calon responden yang bersedia
menjadi responden diminta untuk menandatangani
surat persetujuan. Untuk pengisian
kuesioner dilakukan oleh peneliti melalui
teknik wawancara kepada responden selama
10–15 menit. Peneliti mengisi kuesioner
sesuai dengan jawaban responden.
Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka analisis
data dilakukan melalui pengolahan data
secara komputerisasi dengan menggunakan
program SPSS versi 12.0 untuk mengkolerasikan
program pelayanan posyandu lansia
terhadap tingkat kepuasan lansia.
Pada pelayanan posyandu lansia,
setiap jawaban “ya” maka akan mendapat
skor 1 dan yang “tidak” mendapat skor 0.
Tipe nilai ini ada 7 pertanyaan. Pada
pertanyaan nomor 5, setiap pelayanan yang
“diterima” bernilai 1 dan yang “tidak
diterima” bernilai 0. Tipe nilai ini ada 11
pertanyaan. Untuk pertanyaan nomor 9,
nilai 1 untuk pilihan “antara 6–10 ” dan
nilai 0 untuk pilihan “antara 1–5”. Jadi
untuk keseluruhan nilai tertinggi 7 + 11 +
1 = 19 dan terendah 0. Pelayanan ini dibagi
3 kategori yaitu baik, sedang, dan buruk.
Kategori program pelayanan posyandu
lansia adalah: 0 –6 = buruk, 7–13 = sedang,
14–19 = baik.
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006 5
Sedangkan pada kuesioner tingkat
kepuasan lansia terdiri dari 21 pertanyaan
dengan rentang nilai tertinggi 84 dan
terendah 21. Dengan menggunakan empat
kategori yaitu sangat puas, puas, tidak puas
dan sangat tidak puas. Dengan demikian,
maka kategori tingkat kepuasan lansia
adalah: 21–37 = sangat tidak puas, 38–63 =
tidak puas, 64–70 = puas, dan 71–84 =
sangat puas.
Data demografi disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi dan
persentasi. Hasil analisis data disajikan
dalam bentuk distribusi frekuensi untuk
melihat gambaran program pelayanan
posyandu lansia dan tingkat kepuasan
lansia. Pengaruh program pelayanan
posyandu lansia terhadap tingkat kepuasan
lansia akan dianalisis secara statistik
dengan menggunakan uji korelasi Pearson’s
Product Moment. Hasil dari analisis korelasi
ini adalah nilai koefisien korelasi (r). Nilai r
menginterpretasikan kekuatan hubungan.
Jika nilai r sebesar 0.8–1.0 maka
interpretasinya tinggi, 0.6–0.8 maka nilai
interpretasinya cukup, 0.4–0.6 maka nilai
interpretasinya agak rendah, 0.2–0.4 maka
nilai interpretasinya rendah, dan 0.0–0.2
nilai interpretasinya tidak terkorelasi.
(Arikunto, 2002). Untuk mengetahui hasil
uji hipotesis melalui uji statistik dengan
menggunakan nilai signifikan α (alpha) 0.05.
Kemudian dengan menggunakan uji hipotesis
dua arah sehingga p dibagi menjadi 2 yaitu
0.025. Jika p<0.025 maka Ha diterima (ada
hubungan) (Wahyuni, 2004).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Dalam bab ini diuraikan tentang
hasil penelitian mengenai hubungan
program pelayanan posyandu lansia
terhadap tingkat kepuasan lansia melalui
proses pengumpualan data dari tanggal 23
Mei 2006 sampai 6 Juni 2006 terhadap 67
orang responden di daerah binaan Puskesmas
Darussalam Medan. Penyajian data hasil
penelitian meliputi deskripsi karakteristik
responden, program pelayanan posyandu
lansia dan tingkat kepuasan lansia.
Deskripsi Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi frekuensi dan persentase
berdasarkan karakteristik responden
di daerah binaan Puskesmas
Darussalam Medan (N=67)
Karakteristik Frekuensi Persentase
(%)
Usia
60-70 tahun 40 59,7
Diatas 70 tahun 27 40,3
Jenis kelamin
Pria 34 50,7
Wanita 33 49,3
Status perkawinan
Belum menikah 0 0
Menikah 47 70,1
Janda/Duda 20 29,9
Agama
Islam 26 38,8
Protestan 39 58,2
Katolik 2 3
Budha 0 0
Hindu 0 0
Pendidikan
SD 25 37,3
SMP 17 25,4
SMA 14 20,9
Akademi/ Sarjana 11 16,4
Suku
Batak 43 64,2
Melayu 1 1,5
Jawa 13 19,4
lain-lain 10 14,9
Universitas Sumatera Utara
6 Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006
Program Pelayanan
Tabel 2. Distribusi frekuansi dan persentase
program pelayanan posyandu
lansia di daerah binaan Puskesmas
Darussalam Medan (N=67)
Program
pelayanan
Frekuensi Persentase (%)
Buruk 0 0
Sedang 67 100
Baik 0 0
Tingkat Kepuasan Lansia
Tabel 3. Distribusi frekuensi dan persentase
tingkat kepuasan lansia di Puskesmas
Darussalam Medan (N=67)
Tingkat kepuasan Frekuensi Persentase (%)
Sangat puas 2 3
Puas 13 19,4
Tidak puas 52 77,6
Sangat tidak puas 0 0
Hubungan Program Pelayanan Posyandu
Lansia terhadap Tingkat Kepuasan Lansia
Tabel 4. Hasil analisis hubungan antara
program pelayanan posyandu
lansia dengan tingkat kepuasan
lansia (N=67)
Variabel 1 Variabel 2 r Nilai p Ket.
Program
pelayanan
Tingkat
kepuasan
0.483 0.000 Hub.signifikan
dengan
nilai
agak
rendah
Pembahasan
Dari data hasil penelitian yang telah
diperoleh, pembahasan dilakukan untuk
menjawab pertanyaan tentang hubungan
program pelayanan posyandu lansia dengan
tingkat kepuasan lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam Medan.
Program Pelayanan Posyandu Lansia
Dari hasil distribusi frekuensi dan
persentase berdasarkan program pelayanan
posyandu lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam Medan, didapat
bahwa lansia di daerah binaan Puskesmas
Darussalam Medan yang menjadi responden
sebanyak 67 responden mendapatkan
pelayanan posyandu lansia. Kategori
pelayanan yang didapat oleh lansia-lansia
tersebut adalah pelayanan sedang (100%).
Hal ini menunjukkan bahwa puskesmas
telah menjalankan program posyandu
lansia dengan cukup baik sesuai peraturan
dan ketetapan pemerintah walaupun belum
dapat dikatakan baik karena ada beberapa
program yang belum terlaksanakan.
Latihan atau olahraga adalah salah satu
kegiatan yang belum terlaksana dengan
baik di Puskesmas Darussalam Medan.
Suatu penelitian yang dilakukan Henry dan
Lucy (2006) yaitu menerapkan sistem
keperawatan rumah dan memberikan
latihan fisik pada lansia untuk mengatasi
kesepiannya agar tidak jatuh depresi. Hal
ini memberikan dampak yang positif pada
kesehatan lansia. Apabila latihan fisik pada
lansia dapat dilakukan dengan baik maka
pelayanan juga dapat menjadi lebih baik
dan lebih berkualitas.
Pelayanan perawatan lansia yang
profesional/baik harus sesuai dengan
standar perawatan keperawatan seperti
kualitas, sesuai kebutuhan, etika dan
sebagainya (Ston, Gaite & Eigeti, 1998).
Selain itu untuk menjadi pelayanan yang
baik juga harus memiliki nilai efektif,
produktif, efisien, puas, dan adil (Ratminta
& Winarsi, 2005).
Tingkat Kepuasan Lansia
Bila dilihat dari hasil distribusi
frekuensi dan persentase berdasarkan
tingkat kepuasan lansia, diperoleh data
bahwa sebagian besar responden yaitu
sebanyak 77,6% dari 67 responden merasa
tidak puas terhadap program posyandu
Universitas Sumatera Utara
Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006 7
lansia yang diberikan puskesmas. Hal ini
dapat disebabkan oleh kurangnya program
posyandu lansia yang diterima oleh lansia.
Serta dapat pula disebabkan karena
responden yang ditemukan oleh peneliti
adalah responden yang tidak mengikuti
kelompok lansia yang diselenggarakan
puskesmas, di mana kelompok lansia itu
sendiri masih belum banyak diketahui para
responden. Lansia akan menggunakan
pelayanan jika sesuai dengan kebutuhannya
(Notoadmojo, 1993), namun menurut lansia
pada saat wawancara, lansia tersebut tidak
membutuhkan kelompok lansia karena
merasa terlalu tua, jadi lebih baik di rumah
saja.
Semakin banyak pelayanan yang
diterima oleh lansia maka tingkat kepuasan
juga akan meningkat. Menurut Azwar
(1996) yang dikutip oleh Awinda (2004)
kepuasan berarti keinginan dan kebutuhan
seseorang telah terpenuhi sama sekali.
Kepuasan seorang penerima jasa layanan
dapat tercapai apabila kebutuhan,
keinginan, dan harapan yang dapat
dipenuhi melalui jasa atau produk yang
dikonsumsinya. Dari hasil penelitian yang
ditemukan pelayanan yang diterima para
lansia masih belum optimal, sehingga
tingkat kepuasannya juga tidak terlalu baik.
Hubungan Program Posyandu Lansia terhadap
Tingkat Kepuasan Lansia
Hasil analisis statistik dalam
penelitian ini adalah bahwa program
pelayanan posyandu lansia dengan kategori
baik, sedang dan buruk memiliki hubungan
terhadap tingkat kepuasan lansia dengan
interpretasi agak rendah (r = 0.483). Hasil
hubungan antara kedua variabel adalah
signifikan dengan p = 0.000 (p<0.023 pada
uji dua arah), sehingga dapat disimpulkan
bahwa hipotesis penelitian ini diterima,
artinya terdapat hubungan antara program
pelayanan posyandu lansia dengan tingkat
kepuasan lansia. Hasil ini sesuai dengan
Azwar (1996) yang dikutip oleh Awinda
(2004) yang menyatakan bahwa kepuasan
pasien/klien bersifat subyektif berorientasi
pada individu dan sesuai dengan tingkat
rata-rata kepuasan penduduk. Kepuasan
klien dapat berhubungan dengan berbagai
aspek di antaranya mutu pelayanan yang
diberikan, kecepatan pemberian pelayanan,
prosedur serta sikap yang diberikan oleh
pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri.
Pada penelitian yang dilakukan
dengan tujuan pengembangan indeks
kepuasan pasien sebagai indikator persepsi
pasien terhadap mutu pelayanan Rumah
Sakit Islam Jakarta Timur, diperoleh hasil
bahwa indeks kepuasan pasien secara
bersama-sama dengan indikator pelayanan
rumah sakit yang lain mampu memberikan
gambaran tentang tingkat keberhasilan dan
keadaan pelayanan rumah sakit. Mutu
pelayanan yang baik akan memberikan
kepuasan pasien yang pada akhirnya
berdampak pada kunjungan selanjutnya.
Hal ini juga diungkapkan oleh lansia
yang mengikuti senam lansia yang
diselenggarakan oleh puskesmas di Kalimantan
Barat mengatakan “Saya merasa puas
dengan adanya senam lansia di kelompok
lansia ini, karena saya tidak merasa
kesepian lagi” (Ismuningrum, 2005).
Dengan begitu dapat dilihat adanya
hubungan program pelayanan posyandu
lansia dengan tingkat kepuasan lansia di
daerah binaan Puskesmas Darussalam
Medan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan dapat diambil kesimpulan dan
saran mengenai hubungan program
pelayanan posyandu lansia dengan tingkat
kepuasan lansia di daerah binaan
Puskesmas Darussalam Medan.
Kesimpulan
Dengan jumlah 67 responden,
ditemukan pada distribusi frekuensi
Universitas Sumatera Utara
8 Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2 Nomor 1, Mei 2006
karakteristik responden, hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berada pada usia 60–70 tahun
(59,7%) dan di atas 70 tahun (40,3%)
dengan jenis kelamin pria (50,7%) dan
wanita (49,3%). Mayoritas responden
menikah dan masih memiliki pasangan
(70,1%) sedangkan janda/duda (29,9%).
Persentase agama adalah Islam (38,8%),
Protestan (58,2%), dan Katolik (3%).
Responden kebanyakan memiliki status
pendidikan terakhir SD (37,3%). Sedangkan
berdasarkan suku responden mayoritas
(64,2%) Batak. Keseluruhan responden
mendapat pelayanan dengan kategori
sedang (100%) dengan tingkat kepuasan
responden tidak puas (77.6%), merasa puas
(19,4%), dan sangat puas (3%). Program
pelayanan posyandu lansia memiliki hubungan
signifikan dengan tingkat kepuasan di mana
p<0.025 (pada dua arah), sehingga Ha
dapat diterima. Sedangkan kekuatan
hubungan antara program pelayanan
posyandu lansia dengan tingkat kepuasan
lansia memiliki interpretasi agak rendah
dengan r sebesar 0.483. Berdasarkan tabel
kriteria penafsiran korelasi menurut
Arikunto (2002), bahwa kedua variabel
tersebut memiliki hubungan dengan
interpretasi agak rendah (r pada 0.4–0.6).
Saran
Untuk praktik keperawatan
Dalam praktik keperawatan komunitas
agar dapat mengembangkan kemampuan
untuk pencegahan dan promosi kesehatan
pada lansia. Hal ini dapat berupa berbagai
kreativitas kegiatan dalam pelaksanaan
posyandu lansia misalnya mengadakan
penyuluhan kesehatan, pemberian makanan
bergizi, pengaktifan kelompok lansia
dengan berbagai kegiatan kesehatan dan
berbagi kegiatan lain.
Untuk penelitian keperawatan
Adanya hubungan antara program
pelayanan posyandu lansia dengan tingkat
kepuasaan lansia dapat menjadi masukan
untuk peneliti selanjutnya tentang keefektifan
program puskesmas terhadap peningkatan
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Peneliti berikutnya juga perlu
menggunakan jumlah sampel yang lebih
representatif dengan menggunakan teknik
sampling yang lebih tepat agar mendapatkan
keadaan masyarakat lebih jelas lagi.
Hasil penelitian yang memiliki
hubungan agak rendah, dapat menjadi
rekomendasi bagi peneliti selanjutnya untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi
tingkat kepuasan lansia.
Untuk pendidikan keperawatan
Pada pendidikan keperawatan
terutama pada bidang komunitas agar
dapat lebih memperhatikan kebutuhankebutuhan
lansia yang tidak hanya pada
keadaan sakit tapi juga pada keadaan sehat.
Terutama kebutuhan akan mengatasi
kesepiannya yang merupakan masalah utama.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Effendi, N. (1998). Dasar-dasar keperawatan
kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC.
Hamid, A. Y. (2001). Psikologi perkembangan
pribadi dari bayi sampai lanjut usia.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Muninjaya, A. A. (2004). Manajemen
kesehatan, Ed:2. Jakarta: EGC.
Nugroho. (2000). Perawatan gerontik. Jakarta:
EGC.
Nursalam. (2003). Konsep dan penerapan
penelitian ilmu keperawatan. Jakarta:
Medika Salemba.
Simatupang, R. B. (2005). Perbedaan tingkat
kepuasan pasien rawat inap dan rawat
jalan di Rumah Sakit Pirngadi
Medan. PSIK FK USU: tidak
dipublikasikan.
Universitas Sumatera Utara

posting 2



ABSTRAK
Latihan kegel adalah latihan yang digunakan untuk memperkuatt otot dasar
panggul dengan cara mengkontraksikan rectum dan uretra yang ditahan selama 3 - 5 detik
Remudian merelaksasikannya, dan ini diulangi sebanyak l0 kali selama 4 minggu. Kontraksi otat
dasar panggul yang melemah dapat menyebabkan inkontinensia urine, dimana ini merupakan
salah satu masalah yang dialami lansia dan perlu mendapatkan perhatian khusus seiring dengan
meningkatnya populasi lansia di indonesia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan kegel
terhadap frekuensi inkontinensia urine pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian
}uasi Eksperimental dengan rancangan "Time Series Design" yang dilakukan pada 24 orang
responden, untuk mengetahui pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine
pada lansia.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa setelah dilakukan latihan kegel terjadi
penurunan frekuensi inkotinensia urine sebesu 21,6 o/o dari 10,043 kali menjadi 7,871 kali. Dari
hasil uji T-dependent test didapatkan nilai p sebesar 0,000 sehingga ada pengaruh latihan kegel
terhadap frekuensi inkontinensia urin pada lansia di PantiWreda Pucang Gading Semarang.
Hasil penelitian tersebut mengindikasikan perlunya latihan kegel secara teratur
dalam waktu yang relatif lama untuk mengetahui pengaruh latihan kegel terhadap penurunan
f rekuensi inkontinensia urin.
Kata kunci : Latihan Kege[ Frekuensi lnkontinensia Urine, Lansia.
FIKkttS o Jurnal Keperawatan
Vol. 2 No. 2 - Maret2009 : 42 -48
lJroses menua (aging proces) biasanya akan ditandai dengan adanya
;.2 perubahan fisik-biologis, mentar ataupun spikososial. perubahan fisik I diantaranya adalah penurunan sel, penurunan system persyarafan, system
pendengaran, system penglihatan, system kardiovaskuler, system pengaturan
temperature tubuh, system respirasi, system endokrin, system kulit, system
musculoskeletal. Perubahan-perubahan mental pada lansia yaitu terjadi perubahan
kepribadian, memori dan perubahan intelegensi. sedangkan perubahan spikososial
dapat berupa kehilangna pekerjaan, kesepian dan kehilangan pasangan (Nugroho,
2000).
Menurut salomon dalam Darmojo (2000), bahwa inkontinensia urine pada lanjut
usia menduduki urutan kelima. Dari penelitian menyebutkan bahwa 15-30 % orang
yang tinggal di masyarakat, dan 50 % orang yang dirawat di tempat pelayanan
kesehatan menderita inkontinensia urine. pada tahun 1ggg, dari semua pasien
geriatri yang dirawat di ruang geriatri penyakit dalam RSUD Dr. cipto Mangun
Kusumo didapatkan angka kejadian inkontinensia urine sebesar 10 % dan pada
tahun 2000 meningkat menjadi 12lo lpranarka, 2001).
Diperkirakan sekitar 13 % penduduk pria dan wanita berusia 75 tahun atau lebih
menderita inkontinensia urine. Hampir 34 % terjadi pada laki-laki dan 60 % terjadi
pada wanita yang berusia 75 tahun pada institusi perawat akut mengalami
inkontinensia urine. lnkontinenia urine sangat menghabiskan biaya, baik
konsekwensi secara pskososial bagi pasien maupun dampak ekonomi yang sangat
besar bagi masyarakat. Biaya perawatan pasien inkontinensia urine diperkirakan
lebih dari 10,3 milyar US$ pertahunnya (AHCpR, 1992).
lnkontinenesia urine sering kali menyebabkan pasien dan keluarganya frustasi,
bahkan depresi. Bau yang tidak sedap dan perasaan kotor, tentu akan menimbukan
masalah social dan psikologis. selain iu inkontinensia urine juga akan mengganggu
akvitas fisik, seksual dehidrasi karena umumnya penderita akan mengurangi
minumnya khawatir terjadi ngompol. Masalah lain yang dapat ditemukan adalah
adanya dekubitus dan infeksi saluran kemih yang berulang, disamping dibutuhkan
biaya perawatan sehari-hari yang relative lebih tinggi untuk keperluan membeli
tampon (Setiati, 2001 ).
Terdapat cara yang digunakan untuk memperbaiki ketidakmampuan berkemih yaitu
dengan latihan otot dasar panggul (pelvic muscte exercise) atau sering disebut
dengan latihan kegel. Latihan ini baru diterapkan pada kondisi gangguan berkemih
pada kasus-kasus pasca persalinan yang difokuskan pada latihan kontraksi dan
relaksasi otot dasar panggul, selain itu kegel juga telah dikenal sebagai senam
yang berhubungan dengan aktivitas seksual (Edu. K, 2001).
PENGARUH LATIHAN KEGEL TERHADAP FREKUENSI INKONTINENSIA
URINE PADA LANSIA OI PANTI WREOA PUCANG GAOING SEMARANG.
Athmad Muslota, Wahyu Wldyaringslh
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Panti Wreda Pucang Gading Semarang pada
bulan Februari tahun 2009, diperoleh data bahwa 70 orang dari 115 orang lanjut usia yang tinggal
di PantiWreda Pucang Gading Semarang menderita
inkontinensia urine atau 61 % lansia yang tinggal di Panti Wreda Pucang Gading Semarang
menderita inkontinensia urine. Berdasarkan manfaat-manlaat latihan kegel tersebut, perlu
dilakukan penelitian tentang pengaruh latihan kegel terhadap lrekuensi ikontinensia urine pada
lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang.
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum: Untuk mengetahui pengaruh latihan kegelterhadap frekuensi inkontinensia
urine pada lanjut usia (lansia). Tuiuan Khusus: Mengidentilikasi inkontinensia urine pada lanjut usia
sebelum dan sesudah dilakukan latihan kegel. Menganalisis perbedaan frekuensi inkontinensia
urine sebelum dan sesudah dilakukan latihan kegel.
METODA PENELITIAN
Desain Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Eksperimental
dengan rancangan "Time Series Design". Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang
mengalami inkotinensia urine di Panti Wreda Pucang Gading Semarang sebanyakT0 orang.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara sampling ienuh yaitu cara
pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel (Hidayat,
2007).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Hasil analisis statistik deskriptil lansia berdasarkan umur di Panti Wreda Pucang
Gading Semarang, 2009.
N
Mean
(rata-rata)
Median Modus
Standar
deviasl
Minimal Marimal
Usia
responden
(rh) 24 71,54 72,5 73 5,863 63 83
FIKkiiS o Jurnal Keperawatan
Vol. 2 No, 2 - Maret2009 : 42 -48
Berdasarkan tabel 4.1 di atas dilihat dari segi umur lansia di panU Wreda pucang
Gading Semarang, diperoleh mean (rata-rata) sebesar 71,54 tahun. Median atau nilai tengan
usia responden setelah diurutkan adalah 72,5 tahun dengan standar deviasi atau simpangan
baku sebesar 5,863 dan modus atau nilai yang sering muncul adalah 73 tahun. Umur termuda
responden adalah 63 tahun dan umurtertua responden adalah g3 tahun.
Distribusi lrekuensi lansia berdasarkan lenis kelamin di Panti Wreda pucang Gading
Semarang,2009.
Berdasarkantabeldiatasdilihatdarisegijenisket
Gading Semarang, semua sampel berjenis kelamin perempuan (100yo).
Distribusi lrekuensi lansia berdasarkan tingkal pendidikan di panti wreda pucang
Gading Semarang,2009.
Berdasarkan tabel di atas dilihat dari segi pendidikan lansia di Panti Wreda Pucang Gading
Semarang, sebagian besar responden tidak sekolah yaitu sebesar 19 orang (7g7d dan terkecil
memiliki latar belakang pendidikan SMP dan SMA yaitu 1 orang (4,2o/o), dan yang berpendidikan
SD sebanyak 3 orang (12,50/").
Jenis kelamin Jumlah Persentase (%)
perempuan 24 100%
Jumlah 24 1007o
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
Tidak sekolah
SD
SMP
SLTA
19
3
1
1
79,20/o
12,5o/o
4,2%
4,2%
Jumlah 24 100%
PENGARUH LATIHAN KEGEL TERHADAP FBEKUENSI INKONTINENSIA
URINE PADA LANSIA DI PANTIWREDA PUCANG GADING SEMAMNG.
Akhmad Muslola, Wahyu Wdyanlngsih
L2
10
8
5
4
2
0
-}SEBELUM
.I-SESUDAH
hr1 nrl h16
Frekuensi lnkontinensia Urin.
Rerata lrekuensi lnkontinensia Urin Sebelum dan Sesudah Dilakukan Latihan Kegel
di Panti Wreda Pucang Gading Semarang, 2009.
Berdasarkan grafik diatas didapatkan hasil bahwa sebelum dilakukan latihan kegel rerata
Irekuensi inkontinensia urine minimum pada 24 responden adalah 9,5 yaitu jatuh pada hari
pertama. Rerata maximum adalah 10,3 yaitu jatuh pada hari ke-3, hari ke-5 dan hari ke-6.
Setelah dilakukan latihan kegel rerata frekuensi inkontinensia urine minimum pada24 responden
adalah 7,4 yaitu jatuh pada hari ke-S. Rerata maximum adalah 8,5 yaitu jatuh pada hari ke-3.
Pengaruh latihan kegel terhadap lrekuensi inkontinensia urin pada lansia di Panti
Wreda Pucang Gading Semarang, 2009.
Tabel 4.5 Hasil uli T-dependent fesl pengaruh latihan kegel lerhadap lrekuensi
inkontinensia urin pada lansia di PantiWreda Pucang Gading Semarang, 2009.
Berdasarkan tabel 4.5 diatas didapatkan hasil uji T-dependent tesl bahwa rata-rata
Irekuensi inkontinensia urine sesudah diberikan latihan kegel yaitu sebesar 7,871 dibandingkan
dengan sebelum diberikan latihan yaitu sebesar 10,043.
Variabel N Bata-rata Std. Deviasi P-Value Keterangan
Sebelum
Sesudah
7
7
10,043
7,971
0,3259
0,4231
0,000 Signilikan
fIKkiiS o Jurnal Keperawatan
Vol, 2 No. 2 - Maret 2009 i 42 .48
Hasil uji statistik untuk frekuensi inkontinenqia urin sebelum dan sesudah diberikan latihan
kegel didapatkan P-value = 0,000 < [ = 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan latihan kegel pada lansia di Panti
Wreda Pucang Gading Semarang.
Pembahasan
Dari hasil penelitian di PantiWreda Pucang Gading Semarang tentang pengaruh
latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine pada 24 responden, didapatkan hasil bahwa
ada pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine pada lansia (p< 0.05).
Pengaruh Latihan Kegel Terhadap Frekuensi lnkontinensia Urine Pada Lansia
Berdasarkan hasil analisis statistik dengan ujit-dependent fest atau paired t-test
didapatkan nilai rata-rata frekuensi inkontinensia urine sesudah diberikan latihan kegel mengalami
penurunan sebesar 21,6% yaitu dari 10,083 kalimenladi7,871 kalidan nilai p-value = 0,000 <
0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara signifikan (bermakna)
antara latihan kegel dengan {rekuensi inkontinensia urine.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis yang dilakukan sebelumnya
oleh Flynn, L tentang keefeKifan latihan otot pelvis dalam mengurangi inkontinensia urgensi atau
gabungan dari inkontinensia urgensi dan inkontinensia stress yang diujicobakan pada 37 orang
lansia yang bertempat tinggal di komunitas dengan rentang usia 58 sampai 92 tahun. Dimana
hasil akhir penelitian adalah latihan-latihan tersebut efektif untuk kedua jenis inkontinensia.
Keterbatasan Penelitian : Jumlah sampel dalam penelitian ini yang relatif kecil untuk penelitian.
Waktu latihan kegel yang relatil singkat.
SIMPULAN DAN SAMN
A. Simpulan
1. Frekuensi inkontinensia urine pada lansia mengalami penurunan setelah dilakukan
latihan kegel sebesar 21,6% yaitu rata-rata sebelum 10,043 kali menjadi 7,871 kali.
2. Ada pengaruh yang signifikan (bermakna) antara latihan kegel dengan lrekuensi
inkontinensia urin pada lansia di Panti Wreda Pucang Gading Semarang (P-value =
0,000<E=0,05).
B. Saran
1. Latihan kegel dapat dilaksanakan oleh lansia, sebagai cara untuk menurunkan atau
mengurangi frekuensi inkontinensia urine yang dilaksanakan sebanyak 2 x sehari
selama ninimal 2 bulan.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui berapa lama tingkat keefeKifan
dari pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi inkontinensia urine pada lansia.
PENGARUH LATIHAN KEGEL TERHADAP FREKUENSI INKONTINENSIA
URINE PADA LANSIA DI PANTI WREDA PUCANG GAOING SEMARANG.
Alhmad Muslola, Wahyu Widyaningsih
Akhmad Mustofa Dosen FIKKES Universitas Muhammadiyah Semarang
Wahyu Widyaningsih Alumnus Universitas Muhammadiyah Semarang
DAFTAR PUSTAKA
Czeresna H. S., S.,Lukman, H., Asril, B, (2001). ManifestasiPenyakit Dalam Geriatri. Jakarta :
FKUI.
Darmojo. (2000). Geriatri llmu Kesehatan lJsila. (Edisi 2). Jakarta : FKUI,
Edu, K. (2001). Senam Kegel Untuk Kesehatan dan Kepuasan Sex. Retreived January 16, 2009,
lrom http://v.rww,weddingku.com.
Gallo. (2000) . Gerontologi. Jakarta ;EGC,
Guyton, (1995). Fisiologi Manusiia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik llmiah (Edisi 2). Jakarta :
Salemba Medika.
Kuntjoro, (2002). Masalah Kesehatan Lansia, Jakarta ; FKUI.
Nugroho, Wahjudi. (2008). Keperawatan Gerontik dan Geriatri (Edisi 3), Jakarta : EGC.
Pranarka. (2001). llmu Penyakit Dalam. Jilid 1. (Edisi 3). Jakarta : FKUI.
Setiati. (2001). Majalah Kedokteran lndonesia. (/olume 5/). Jakarta: EGC.
SmelEer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan MedikalBedah. (EdisiS). iakarta:EGC.
Sugiyono. (2007). Statistrka Untuk penelitian. Bandung : Alfabeta.
FIKkiiS o Jurnal Keperawatan
Vol. 2 No, 2 - Maret2009 : 42 -48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar